PENJUALAN TERHAMBAT KARENA TIM GAK MAU SPEAK UP!

Sebagai pemimpin pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa beberapa tim penjualan lain begitu terbuka tentang masalah yang mereka hadapi, sementara tim kamu enggan untuk terbuka?

Apa peran penting yang harus dimiliki pemimpin yang telah mengalami proses coaching dalam menciptakan lingkungan agar anggota tim merasa nyaman dan terbuka?

Dapatkah pemimpin yang telah mengalami proses coaching membuat tim penjualan merasa terbuka tentang masalah yang dihadapinya? Dalam artikel ini, kita akan membagikan peran penting pemimpin yang telah mengalami coaching dalam memfasilitasi komunikasi terbuka dalam tim penjualan.

1. Pemahaman yang Lebih Baik tentang Keterampilan Komunikasi

Pemimpin yang telah mengalami proses coaching biasanya memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang keterampilan komunikasi yang efektif. Mereka telah belajar bagaimana mendengarkan secara aktif, mengajukan pertanyaan yang relevan, dan memberikan umpan balik yang konstruktif. Keterampilan ini memungkinkan mereka untuk berkomunikasi dengan baik dengan anggota tim penjualan, menciptakan ruang untuk berbicara tentang masalah, dan mendengarkan dengan empati saat anggota tim berbagi keprihatinan mereka.

2. Menciptakan Lingkungan Terbuka dan Aman

Pemimpin memahami bahwa kepercayaan dan transparansi adalah elemen kunci dalam memotivasi tim penjualan untuk berbicara tentang masalah. Dalam budaya yang terbuka, anggota tim merasa nyaman untuk berbagi kekhawatiran atau tantangan tanpa takut hukuman atau kritik yang tidak konstruktif.

3. Memfasilitasi Diskusi yang Produktif

Pemimpin yang berpengalaman dalam coaching juga memahami bagaimana memfasilitasi diskusi yang produktif ketika masalah muncul. Mereka tidak hanya membiarkan masalah diabaikan atau dihindari, tetapi mereka membantu tim untuk menggali akar masalah dan mencari solusi bersama. Mereka bisa bertindak sebagai mediator yang efektif, mengarahkan percakapan ke arah yang konstruktif, dan mendorong pemikiran kreatif dalam mengatasi masalah.

4. Menggunakan Pengalaman Pribadi sebagai Contoh

Pemimpin yang telah menjalani coaching sering menggunakan pengalaman pribadi mereka sebagai contoh yang kuat. Mereka dapat berbagi kisah tentang bagaimana mereka mengatasi hambatan dalam karier mereka sendiri atau menghadapi masalah yang serupa. Ini bukan hanya memberikan inspirasi kepada anggota tim, tetapi juga membuat mereka merasa bahwa pemimpin mereka adalah orang yang bisa dipercaya dan dapat dimengerti.

5. Memberikan Dukungan Aktif

Dukungan aktif adalah kunci dalam mendorong anggota tim penjualan untuk berbicara tentang masalah. Pemimpin harus siap mendengarkan dengan seksama ketika anggota tim berbicara tentang masalah mereka. Mereka mengambil tindakan yang diperlukan untuk membantu menyelesaikan masalah tersebut, dan mereka memberikan dorongan positif. Dengan cara ini, pemimpin menciptakan hubungan yang kuat antara diri mereka dan anggota tim, yang mendorong komunikasi yang terbuka dan kerja sama yang lebih baik.

Dengan komunikasi yang efektif, dukungan aktif, dan kemampuan untuk menciptakan lingkungan terbuka, mereka membantu tim mencapai potensi penuh mereka dan menjadikan perusahaan lebih tangguh dalam menghadapi tantangan bisnis. Kesuksesan tim penjualan bukan hanya tentang penjualan yang kuat, tetapi juga tentang kolaborasi dan komunikasi yang kuat.

Salam performance

TIDAK PUNYA SKILL KOMUNIKASI?LEAERS YAKIN BERHASIL?

Ibarat nahkoda kapal sebagai pemimpin harus memiliki visi dan misi yang jelas untuk membawa perusahaan dalam sebuah kesuksesan. Yang artinya dalam mencapai visi misi pemimpin harus mampu skill komunikasi dan persuasif yang baik.

Coba bayangkan apa jadinya jika pemimpin tidak memiliki skill komunikasi yang baik? Repot bukan?

Dalam dunia bisnis kepemimpinan yang efektif tidak hanya melibatkan kemampuan mengatur dan mengarahkan, tetapi juga kemampuan untuk memengaruhi dan memotivasi orang lain. Salah satu pendekatan yang dapat membantu memperkuat keterampilan persuasif adalah Neuro Linguistic Programming (NLP).

Menurut Dr. Richard Bandler sebagai bapak NLP, menjelaskan bahwa (NLP) adalah “pemahaman tentang bagaimana manusia berbicara kepada diri mereka sendiri dan kepada orang lain.”

Mengapa Keterampilan Persuasif Penting dalam Kepemimpinan:

1. Membangun Hubungan:

Keterampilan persuasif membantu pemimpin membangun hubungan yang kuat dengan tim, rekan kerja, dan mitra bisnis. Dengan kemampuan untuk berkomunikasi dengan cara yang meyakinkan, pemimpin dapat memperoleh dukungan dan kepercayaan dari orang lain.

2. Mengatasi Perbedaan Pendapat:

Pemimpin sering dihadapkan pada situasi di mana perbedaan pendapat muncul. Kemampuan persuasif memungkinkan pemimpin untuk menyampaikan pandangan mereka dengan cara yang dapat meyakinkan orang lain untuk merangkul ide atau solusi yang diajukan.

3. Menginspirasi dan Memotivasi:

Keterampilan persuasif memungkinkan pemimpin untuk menginspirasi dan memotivasi tim mereka. Dengan menggunakan argumen yang kuat dan meyakinkan, pemimpin dapat merangsang semangat dan komitmen untuk mencapai tujuan bersama.

4. Menghadapi Tantangan Eksternal:

Pemimpin sering harus berinteraksi dengan pihak luar seperti pelanggan, investor, atau mitra bisnis. Keterampilan persuasif membantu pemimpin menghadapi situasi ini dengan percaya diri dan efektif.

5. NLP dalam Kepemimpinan:

NLP adalah suatu pendekatan psikologis yang menggabungkan pola pikir, bahasa, dan perilaku untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam konteks kepemimpinan, NLP dapat memberikan alat dan teknik untuk meningkatkan keterampilan persuasif pemimpin. Beberapa konsep NLP yang relevan antara lain:

• Modeling (Pemodelan):

Pemodelan melibatkan memahami dan meniru pola perilaku orang-orang yang telah berhasil dalam keterampilan tertentu. Dalam hal ini, pemimpin dapat menggunakan pemodelan untuk memahami bagaimana individu yang persuasif berkomunikasi dan beradaptasi dengan gaya mereka.

• Rapport (Hubungan Baik):

Konsep rapport dalam NLP adalah tentang membangun hubungan yang harmonis dan saling menghormati dengan orang lain. Pemimpin dapat menggunakan prinsip ini untuk membangun koneksi yang lebih dalam dengan anggota tim dan berkomunikasi dengan lebih efektif.

• Anchoring (Ancangan):

Ancangan adalah teknik di mana perasaan atau emosi tertentu dikaitkan dengan stimulus tertentu. Dalam kepemimpinan, pemimpin dapat menggunakan teknik ini untuk membangkitkan motivasi dan semangat dalam diri anggota tim dengan menggunakan stimulus tertentu, seperti kata-kata inspiratif atau gerakan tangan yang konsisten.

Kesimpulan keterampilan persuasif yang kuat adalah aspek penting dari kepemimpinan yang efektif karena dapat membantu pemimpin mengasah keterampilan ini melalui pemodelan, pendekatan yang membangun hubungan baik, dan teknik lainnya.

Salam performance

NLP sebagai Alat untuk Mengatasi Trauma Dalam Diri

Bagaimana NLP dapat digunakan sebagai alat untuk mengatasi trauma dalam diri dan mengembalikan kualitas hidup yang lebih baik?

Trauma merupakan suatu pengalaman emosional yang mengganggu dan dapat meninggalkan bekas dalam diri seseorang. Salah satu metode yang telah banyak diteliti untuk membantu mengatasi trauma adalah Neuro Linguistic Programming (NLP).

  • Pengenalan tentang Neuro Linguistic Programming (NLP)

NLP merupakan suatu pendekatan psikologi yang bertujuan untuk memahami bagaimana pikiran dan bahasa berinteraksi untuk mempengaruhi perilaku seseorang. NLP melibatkan teknik-teknik komunikasi dan pemahaman diri yang dapat membantu individu mengatasi masalah dan mengubah pola pikir negatif.

  • Trauma dan Dampaknya pada Kehidupan

Trauma dapat muncul sebagai akibat dari berbagai peristiwa traumatis, seperti kecelakaan, kehilangan orang terkasih, pelecehan, atau peristiwa traumatis lainnya. Dampak trauma bisa berupa gangguan kecemasan, depresi, ketakutan berlebihan, atau masalah emosional lainnya yang mengganggu kehidupan sehari-hari.

Free photo stressed man sitting hopelessly with cracked glass effect

  • Bagaimana NLP Bekerja

NLP bekerja dengan berfokus pada pemahaman diri, mengidentifikasi pola pikir negatif, dan menggantinya dengan pola pikir yang lebih adaptif dan positif. Beberapa teknik NLP yang sering digunakan dalam mengatasi trauma antara lain:

  1. Rekonsiliasi dalam waktu: Membantu individu untuk menciptakan keselarasan antara pengalaman traumatis masa lalu dengan peristiwa positif masa kini.
  2. Teknik Perubahan Gambar: Mengubah representasi mental mengenai peristiwa traumatis agar tidak lagi memicu respon emosional yang berlebihan.
  3. Metode “Fast Phobia Cure“: Mengatasi ketakutan berlebihan terhadap suatu stimulus yang berkaitan dengan trauma.
  4. Pembuatan Tujuan: Membantu individu untuk menciptakan tujuan hidup yang positif dan mengarahkan energi pada hal-hal yang bermanfaat.
  • Pentingnya Pendampingan Profesional

Meskipun NLP dapat membantu mengatasi trauma dalam diri, penting untuk mencari bantuan dari seorang profesional terlatih yang memiliki pengalaman dalam menggunakan NLP untuk mengatasi trauma. Proses menghadapi trauma bisa rumit dan kompleks, dan bantuan dari ahli dapat memastikan bahwa individu mendapatkan dukungan yang tepat.

Neuro Linguistic Programming (NLP) merupakan pendekatan yang menjanjikan untuk membantu mengatasi trauma dalam diri. Dengan mengidentifikasi dan mengubah pola pikir negatif, NLP dapat membantu individu menghadapi pengalaman traumatis dengan lebih baik, dan mengarahkan kehidupan menuju ke arah yang lebih positif dan produktif.

Selain itu, ilmu NLP juga digunakan dalam banyak hal diantaranya untuk pengembangan diri, berbisnis, dan untuk kehidupan yang lebih baik lainnya. Namun, ingatlah bahwa mencari bantuan profesional adalah langkah yang bijak untuk memastikan proses pemulihan yang optimal.

Salam performance

Menerapkan Komunikasi Persuasif dengan Metode NLP

Apa yang dimaksud dengan Neuro-Linguistic Programming (NLP)? Mengapa hal ini penting dalam konteks komunikasi persuasif?

Bagaimana cara menerapkan komunikasi persuasif dengan menggunakan prinsip-prinsip NLP untuk mencapai tujuan secara efektif?

Komunikasi persuasif adalah keterampilan yang penting dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia bisnis, pendidikan, dan hubungan sosial. Salah satu metode yang telah terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan komunikasi persuasif adalah Neuro-Linguistic Programming (NLP).

Neuro-Linguistic Programming (NLP) adalah suatu pendekatan psikologi yang berfokus pada bagaimana pikiran (neuro), bahasa (linguistik), dan pola perilaku (programming) saling berinteraksi. Tujuan dari NLP adalah untuk memahami dan mengoptimalkan cara kita berpikir dan berkomunikasi agar dapat mencapai hasil yang diinginkan.

  • Membangun Empati dan Rapport

Langkah pertama dalam komunikasi persuasif dengan NLP adalah menciptakan empati dan rapport dengan lawan bicara. Gunakan bahasa tubuh yang positif, tunjukkan ketertarikan pada apa yang mereka katakan, dan cocokkan gerakan tubuh dan bahasa tubuh mereka untuk membangun koneksi yang lebih mendalam.

  • Identifikasi Kebutuhan dan Nilai Lawan Bicara

Pahami kebutuhan, nilai, dan keinginan dari lawan bicara Anda. Dengan mengetahui apa yang mereka inginkan dan menghargai nilai-nilai mereka, Anda dapat menyusun argumen persuasif yang relevan dan lebih mampu meraih simpati mereka.

  • Gunakan Bahasa dan Framing yang Efektif

Dalam komunikasi persuasif dengan NLP, penting untuk menggunakan bahasa yang positif, konkret, dan mudah dipahami. Hindari bahasa yang ambigu atau bisa menimbulkan salah tafsir. Framing atau penyusunan pesan juga perlu diperhatikan, sehingga pesan yang disampaikan dapat lebih persuasif dan mempengaruhi pola pikir lawan bicara.

  • Penggunaan Teknik “Anchoring”

Anchoring adalah teknik dalam NLP yang menghubungkan suatu emosi atau perasaan dengan stimulus tertentu. Dalam konteks komunikasi persuasif, Anda dapat menciptakan “anchor” positif dengan menciptakan hubungan antara ide, produk, atau layanan Anda dengan emosi positif yang ingin dihubungkan oleh lawan bicara.

  • Menggunakan Strategi “Milton Model” dan “Meta Model”

Dalam NLP, terdapat dua strategi bahasa yang sering digunakan untuk komunikasi persuasif, yaitu “Milton Model” dan “Meta Model”. Milton Model adalah pendekatan yang menggunakan bahasa yang ambigu dan sugestif untuk menginspirasi pemikiran kreatif dan perubahan pola pikir. Sementara Meta Model berfokus pada mengajukan pertanyaan yang tepat untuk mengklarifikasi atau memperluas informasi yang disampaikan, sehingga dapat membuka potensi pemikiran lebih dalam.

  • Menerapkan Neuro-Linguistic Programming

Menerapkan Neuro-Linguistic Programming dalam komunikasi persuasif adalah suatu keterampilan yang berharga untuk mencapai tujuan dengan lebih efektif. Dengan memahami dan menggunakan teknik NLP seperti membangun empati, identifikasi kebutuhan, penggunaan bahasa yang tepat, serta penerapan Milton Model dan Meta Model, Anda dapat meningkatkan daya persuasi Anda dalam berkomunikasi dengan orang lain.

Ingatlah selalu untuk menggunakan keterampilan ini secara etis dan dengan niat yang baik demi kebaikan bersama.

Salam performance,

Mempengaruhi seseorang yang Feeling, Choice atau Thinking?

Bagaimana mempengaruhi seseorang yang

Feeling, Choice atau Thinking?

By Coach Antonius Arif

 

Baca Artikel Profil Meta Program Feeling, Choice, & Thinking, baca disini…

 

  1. Berbicara dengan Orang yang Lebih Memiliki Preferensi “Feeling”:
    • Berbicaralah dengan empati dan perasaan. Tunjukkan bahwa Anda memahami perasaan mereka.
    • Gunakan bahasa yang berfokus pada emosi dan hubungan antarpribadi. Misalnya, katakan, “Saya mengerti bahwa ini bisa membuat Anda merasa sangat senang.”
    • Jadilah pendengar yang baik dan pertimbangkan perasaan mereka dalam pengambilan keputusan.
  1. Berbicara dengan Orang yang Lebih Memiliki Preferensi “Choice”:
  • Berikan opsi dan pilihan. Biarkan mereka merasa bahwa mereka memiliki kontrol dan kebebasan dalam keputusan mereka.
  • Gunakan bahasa yang memberi penekanan pada pilihan dan kebebasan. Misalnya, katakan, “Ini adalah pilihan Anda. Anda memiliki beberapa opsi yang bisa Anda pertimbangkan.”
  • Berikan argumen yang rasional dan informasi yang dapat mendukung pilihan mereka.
  1. Berbicara dengan Orang yang Lebih Memiliki Preferensi “Thinking”:
  • Gunakan bahasa yang berfokus pada fakta, logika, dan analisis. Berikan argumen yang berbasis pada data dan informasi yang relevan.
  • Berbicaralah dengan cara yang terstruktur dan logis. Gunakan alasan dan bukti untuk mendukung argumen Anda.
  • Berikan waktu bagi mereka untuk memproses informasi dan berpikir secara mendalam sebelum membuat keputusan.

 

Bagi Anda yang ingin mendapatkan artikel terbaru terkait NLP dari Coach Antonius Arif dapat bergabung dalam WA Group https://chat.whatsapp.com/JZ1Ks4QJubl6842uKDRMly

Profil Meta Program Feeling, Choice, & Thinking

Profil Meta Program Feeling, Choice, & Thinking

By Coach Antonius Arif

 

Feeling, choice & Thinking : Tiga tipe pemrosesan informasi yang digunakan untuk memahami bagaimana seseorang mengambil keputusan dan berinteraksi dengan dunia di sekitarnya.

 

  • Feeling : Cenderung mengambil keputusan dan berinteraksi dengan dunia berdasarkan perasaan dan emosi mereka. Mereka lebih cenderung mempercayai intuisi mereka dan memahami dunia melalui perasaan. Mereka mungkin lebih fokus pada hubungan antarpribadi dan bagaimana keputusan mereka memengaruhi perasaan orang lain.

Contoh : saya jengkel banget sama dia, saya kesel sama dia

Orang yang profil ini cocok : Pekerjaan yang membutuhkan semangat seperti sales

 

  • Choice : Cenderung mengambil keputusan dan berinteraksi dengan dunia berdasarkan pilihan dan kebebasan individu. Mereka mungkin lebih cenderung memproses informasi dengan berpikir rasional dan logis, dan mereka mungkin lebih mementingkan kebebasan dan otonomi dalam pengambilan keputusan.

Contoh : saya kesel banget, tapi dipikir pikir …..

Orang yang profil ini cocok : pekerjaan yang membutuhkan semangat dan sekaligus memakai logika

 

  • Thinking : Cenderung mengambil keputusan dan berinteraksi dengan dunia berdasarkan analisis dan pemikiran logis. Mereka cenderung lebih mengandalkan data, fakta, dan logika dalam pengambilan keputusan. Mereka mungkin lebih suka memahami dunia melalui kerangka pemikiran yang rasional.

Kata kunci perkataan : pikir, suka memakai kata sambung “bahwa”

Contoh : setelah saya pertimbangkan dengan seksama.

Orang yang profil ini cocok : pekerjaan yang tingkat stress tinggi dengan tetap tenang

 

Bagaimana Anda tahu orang itu feeling, choice atau thinking?

  1. Pertanyaan Langsung: Anda dapat bertanya kepada seseorang secara langsung tentang preferensi mereka. Misalnya, Anda bisa bertanya:
    1. “Apakah Anda cenderung lebih mempercayai perasaan dan intuisi dalam pengambilan keputusan?”
    2. “Apakah Anda lebih cenderung memilih berdasarkan preferensi pribadi dan kebebasan?”
    3. “Apakah Anda cenderung lebih mengandalkan analisis dan logika dalam pengambilan keputusan?”
  1. Pertanyaan Tentang Pendekatan: Anda bisa bertanya kepada mereka tentang pendekatan mereka dalam berbagai situasi. Misalnya, Anda bisa bertanya:
  • “Bagaimana Anda biasanya mengatasi situasi sulit?”
  • “Apa yang lebih penting bagi Anda dalam pengambilan keputusan: merasa benar atau berpikir rasional?”
  • “Apa yang memengaruhi keputusan Anda lebih: perasaan, preferensi pribadi, atau data dan fakta?”
  1. Pengamatan Bahasa Tubuh dan Bahasa Verbal: Amati bahasa tubuh dan bahasa verbal seseorang selama percakapan. Orang yang memiliki preferensi “feeling” mungkin akan lebih sering mengungkapkan emosi dan berbicara tentang perasaan mereka. Orang yang memiliki preferensi “choice” mungkin akan cenderung membicarakan pilihan dan kebebasan. Orang yang memiliki preferensi “thinking” mungkin akan cenderung lebih menonjolkan fakta dan logika.
    • “Apakah Anda cenderung lebih mempercayai perasaan dan intuisi dalam pengambilan keputusan?”
    • “Apakah Anda lebih cenderung memilih berdasarkan preferensi pribadi dan kebebasan?”
    • “Apakah Anda cenderung lebih mengandalkan analisis dan logika dalam pengambilan keputusan?”

Bagi Anda yang ingin mendapatkan artikel terbaru terkait NLP dari Coach Antonius Arif dapat bergabung dalam WA Group https://chat.whatsapp.com/JZ1Ks4QJubl6842uKDRMly

Profil Meta Program Sameness & Difference

Profil Meta Program Sameness & Difference

By Coach Antonius Arif

 

Sameness and Difference : Dua konsep yang digunakan untuk memahami bagaimana seseorang memproses dan memahami informasi.

    • Sameness : cenderung lebih fokus pada kesamaan atau kesesuaian antara hal-hal yang mereka lihat atau dengar. Mereka cenderung mencari persamaan, pola yang konsisten, dan keteraturan dalam informasi. Mereka mungkin lebih suka memahami konsep atau ide dengan merinci persamaan dan kesamaan dengan yang sudah mereka ketahui.

Kata kunci perkataan : Sama, tidak ada yang berubah

Contoh :  Produk yang saya tawarkan ini sama persis dengan yang sudah pernah anda gunakan sebelumnya

Orang yang profil ini cocok : pekerjaan yang sifatnya berulang

 

  • Difference : cenderung lebih fokus pada perbedaan, variasi, atau perubahan dalam informasi. Mereka cenderung mencari aspek yang unik, perbedaan, atau hal-hal yang membuat sesuatu berbeda dari yang lain. Mereka mungkin lebih suka memahami konsep atau ide dengan menyoroti perbedaan dan variasi.

Kata kunci perkataan : Ada perubahan, berbeda

Contoh : yang berbeda dari produk ini adalah ada temuan baru yang membantu Kesehatan anda

Orang yang profil ini cocok : cocok untuk menjadi quality control, creative

 

Bagaimana anda tahu orang itu Sameness dan Difference?

 

  1. Pertanyaan Langsung: Anda dapat bertanya kepada orang tersebut tentang preferensi mereka secara langsung. Misalnya:
    • “Apakah Anda cenderung lebih fokus pada kesamaan atau perbedaan dalam informasi dan ide?”
    • “Apakah Anda merasa lebih nyaman ketika mencari kesamaan dalam situasi atau lebih suka menyoroti perbedaan?”
    • “Apakah Anda lebih suka memahami sesuatu dengan cara menemukan kesamaan dengan yang sudah Anda ketahui atau dengan menyoroti perbedaan?”
  2. Pengamatan Bahasa Tubuh dan Bahasa Verbal: Amati bahasa tubuh dan bahasa verbal seseorang selama percakapan. Orang yang memiliki preferensi “sameness” mungkin akan cenderung menggunakan kata-kata atau frase yang menekankan kesamaan, seperti “sama dengan,” “mirip dengan,” atau “seperti biasanya.” Orang yang memiliki preferensi “difference” mungkin akan lebih sering menggunakan kata-kata atau frase yang menyoroti perbedaan, seperti “berbeda dari,” “unik,” atau “lain daripada yang lain.”
  3. Pertanyaan Mengenai Pendapat: Anda dapat bertanya kepada mereka tentang pendapat mereka dalam konteks tertentu yang melibatkan kesamaan atau perbedaan. Misalnya, Anda bisa bertanya, “Apa pendapat Anda tentang mengidentifikasi perbedaan antara berbagai pendekatan?” atau “Bagaimana Anda biasanya merespons ketika melihat kesamaan dalam situasi yang berbeda?”

Bagi Anda yang ingin mendapatkan artikel terbaru terkait NLP dari Coach Antonius Arif dapat bergabung dalam WA Group https://chat.whatsapp.com/JZ1Ks4QJubl6842uKDRMly

 

 

Bagaimana cara mempengaruhi orang Internal atau External?

Bagaimana cara mempengaruhi orang Internal atau External?

By Coach Antonius Arif

 

Mempengaruhi Orang yang Lebih Memiliki Preferensi “Internal”:

  1. Berkomunikasi secara Pribadi: Pahami bahwa orang dengan preferensi “internal” cenderung lebih introspektif. Mereka mungkin merasa lebih nyaman dalam percakapan satu lawan satu. Berikan mereka ruang untuk berbicara tentang pemikiran dan perasaan mereka.
  2. Tanyakan Pertanyaan Reflektif: Gunakan pertanyaan yang mendorong mereka untuk merenung dan mengungkapkan pemikiran mereka. Misalnya, tanyakan, “Bagaimana Anda merasa tentang situasi ini?” atau “Apa yang Anda pikirkan tentang solusi yang mungkin?”
  3. Respek Privasi: Hargai privasi mereka dan jangan terlalu mendesak. Orang dengan preferensi “internal” mungkin perlu waktu untuk merenung sebelum mereka merasa nyaman untuk berbicara.

Mempengaruhi Orang yang Lebih Memiliki Preferensi “External”:

  1. Berkomunikasi secara Aktif: Orang dengan preferensi “external” cenderung lebih terhubung dengan dunia luar. Aktif mendengarkan dan berbicara dengan energi yang positif dapat membantu memengaruhi mereka.
  2. Berikan Bukti dan Pengalaman Nyata: Gunakan data, fakta, contoh konkret, dan pengalaman nyata untuk mendukung argumen Anda. Orang dengan preferensi “external” cenderung lebih merespons pada informasi yang dapat mereka lihat dan alami.
  3. Tunjukkan Dampak pada Orang Lain: Jelaskan bagaimana keputusan atau tindakan mereka dapat memengaruhi orang lain atau situasi di lingkungan mereka. Orang dengan preferensi “external” cenderung lebih responsif terhadap dampak yang terlihat.

Bagi Anda yang ingin mendapatkan artikel terbaru terkait NLP dari Coach Antonius Arif dapat bergabung dalam WA Group https://chat.whatsapp.com/JZ1Ks4QJubl6842uKDRMly

Profil Meta Program Internal & External

Profil Meta Program Internal & External

By Coach Antonius Arif

Internal dan External adalah dua jenis orientasi atau sumber preferensi informasi yang digunakan oleh seseorang dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan dunia sekitarnya.

  • Internal : lebih cenderung memproses informasi berdasarkan pengalaman, pemikiran, dan perasaan pribadi mereka sendiri. Mereka cenderung lebih introspektif dan lebih terhubung dengan pemikiran dan perasaan mereka. Mereka mungkin berbicara dengan menggunakan bahasa yang mencerminkan pengalaman pribadi, seperti “Saya merasa…” atau “Saya pikir…”.

Kata kunci perkataan : Tahu, yakin sendiri, percaya pada penilaian sendiri

Contoh : saya yakin keputusan ini sudah bulat, saya tahu yang terbaik

Orang yang preferensil ini cocok sebagai pemimpin karena akan berdampak untuk pengambilan keputusan.

  • External : lebih cenderung mencari informasi dari lingkungan eksternal dan orang di sekitar mereka. Mereka cenderung lebih terhubung dengan apa yang terjadi di luar diri mereka dan lebih fokus pada pengamatan dan interaksi sosial. Mereka mungkin berbicara dengan menggunakan bahasa yang mencerminkan situasi atau orang lain, seperti “Orang mengatakan…” atau “Situasi ini terlihat…”.

Kata kunci perkataan : apa kata orang, nilai, KPI dan lain lain

Contoh : setelah mendengarkan masukan dari tim kami, teman saya mengatakan bahwa produk ini bagus

Orang preferensi ini mau mendengarkan feedback dari orang lain. Cocok menjadi customer service.

Bagaimana mengetahui mereka internal atau external?

  1. Amati Bahasa Tubuh dan Bahasa Verbal: Perhatikan bahasa tubuh dan bahasa verbal seseorang selama percakapan. Orang yang lebih cenderung “internal” mungkin cenderung lebih banyak mengungkapkan pemikiran dan perasaan pribadi mereka. Mereka mungkin menggunakan kata-kata seperti “Saya merasa” atau “Saya berpikir.” Orang yang lebih cenderung “external” mungkin cenderung lebih banyak berbicara tentang pengamatan eksternal atau pengalaman orang lain.
  2. Pertanyaan Terbuka: Dalam percakapan, Anda dapat mengajukan pertanyaan terbuka yang memungkinkan seseorang berbicara lebih banyak tentang pemikiran dan perasaan pribadi mereka atau tentang pengamatan eksternal. Beberapa contoh pertanyaan termasuk:
  • “Apa yang Anda pikirkan tentang situasi ini?”
  • “Apa yang Anda rasakan saat ini?”
  • “Apa pendapat Anda tentang pengalaman ini?”
  1. Pertanyaan Pilihan Ganda: Anda juga dapat mengajukan pertanyaan dengan pilihan ganda yang meminta seseorang untuk memilih di antara beberapa opsi. Misalnya, Anda bisa bertanya, “Apakah Anda lebih suka belajar dari pengalaman Anda sendiri atau dari pengalaman orang lain?” Ini dapat memberikan petunjuk tentang preferensi mereka.
  2. Pertanyaan Tentang Sumber Informasi: Anda bisa bertanya langsung tentang sumber informasi yang mereka andalkan ketika membuat keputusan atau memahami situasi. Misalnya, “Apakah Anda lebih sering mencari saran dari orang lain atau Anda cenderung mengandalkan pengalaman pribadi Anda?

Bagi Anda yang ingin mendapatkan artikel terbaru terkait NLP dari Coach Antonius Arif dapat bergabung dalam WA Group https://chat.whatsapp.com/JZ1Ks4QJubl6842uKDRMly

Bagaimana Kita Tahu Orang Procedural dan Optional?

Bagaimana Kita Tahu Orang Procedural dan Optional?

By Coach Antonius Arif

  1. Pertanyaan Terbuka: Dalam percakapan sehari-hari, Anda dapat bertanya pertanyaan terbuka yang memberi seseorang kesempatan untuk berbicara tentang pendekatan mereka terhadap pekerjaan. Beberapa contoh pertanyaan termasuk:
  • “Bagaimana Anda biasanya mengelola tugas atau proyek?”
  • “Apa yang Anda anggap penting dalam menyelesaikan pekerjaan dengan sukses?”
  • “Bagaimana Anda menyusun rencana atau strategi untuk mencapai tujuan?”
  1. Pertanyaan Khusus: Anda juga dapat menggunakan pertanyaan yang lebih spesifik untuk menggali preferensi mereka dalam hal langkah-langkah atau prosedur. Contoh pertanyaan meliputi:
  • “Apakah Anda lebih suka bekerja dengan panduan yang jelas atau lebih suka menentukan langkah-langkah Anda sendiri dalam menyelesaikan tugas?”
  • “Bagaimana Anda mengatasi situasi ketika prosedur yang telah ditetapkan tidak berfungsi atau relevan?”
  • “Bagaimana Anda merencanakan dan mengorganisasi pekerjaan Anda?”
  1. Observasi: Amati cara seseorang mengelola pekerjaan mereka. Orang yang memiliki preferensi “optional” mungkin lebih fleksibel dan cenderung mencari cara kreatif untuk menyelesaikan tugas. Orang yang memiliki preferensi “prosedural” mungkin lebih cenderung mengikuti langkah-langkah yang telah ditetapkan atau mencari panduan yang telah diberikan.

Bagaimana mempengaruhi orang Prosedural dan Optional?

Mempengaruhi Orang yang Lebih Memiliki Preferensi “Optional” :

  • Berikan Ruang untuk Kreativitas: Orang dengan preferensi “optional” cenderung lebih kreatif dan fleksibel dalam pendekatan mereka. Berikan mereka kesempatan untuk mengemukakan ide-ide kreatif dan eksplorasi tanpa batasan yang ketat.
  • Bicaralah tentang Tujuan dan Hasil: Fokus pada tujuan dan hasil yang diinginkan. Orang dengan preferensi “optional” mungkin akan lebih termotivasi oleh tujuan yang ingin mereka capai daripada oleh prosedur atau langkah-langkah tertentu.
  • Biarkan Mereka Menentukan Cara: Berikan mereka ruang untuk menentukan cara mereka ingin mencapai tujuan mereka. Orang dengan preferensi “optional” mungkin merasa lebih nyaman dalam menentukan langkah-langkah mereka sendiri.

Mempengaruhi Orang yang Lebih Memiliki Preferensi “Procedural”:

  • Berikan Panduan dan Struktur: Orang dengan preferensi “procedural” cenderung mencari panduan dan struktur yang jelas. Berikan mereka petunjuk yang rinci tentang apa yang diharapkan dan langkah-langkah yang harus diikuti.
  • Bicaralah tentang Proses: Fokus pada proses dan langkah-langkah yang harus diambil. Jelaskan secara rinci bagaimana sesuatu akan dilakukan atau dicapai.
  • Jelaskan Logika dan Alasan: Berikan alasan atau penjelasan yang masuk akal tentang mengapa prosedur atau langkah-langkah tertentu diperlukan. Orang dengan preferensi “procedural” mungkin lebih terdorong jika mereka memahami logika di balik tindakan yang diambil.

Bagi Anda yang ingin mendapatkan artikel terbaru terkait NLP dari Coach Antonius Arif dapat bergabung dalam WA Group https://chat.whatsapp.com/JZ1Ks4QJubl6842uKDRMly