coaching leadership

Tim Defensif Saat Diberi Feedback? 5 Cara Leader Mengubah Kritik Menjadi Percakapan Coaching

Tim Defensif Saat Diberi Feedback? 5 Cara Leader Mengubah Kritik Menjadi Percakapan Coaching

Rapat feedback baru berjalan sepuluh menit, tetapi suasana sudah berubah. Anda menyampaikan bahwa laporan bulanan sering terlambat. Anggota tim menunduk, lalu menjawab, “Tapi bulan lalu saya juga lembur, kok yang diingat cuma yang telat?” Percakapan pun bergeser dari masalah laporan menjadi pembelaan diri. Anda menutup rapat dengan rasa tidak nyaman—dan mungkin berkata dalam hati, “Lain kali saya sampaikan lewat chat saja.”

Pengalaman ini akrab bagi banyak pemimpin. Dalam praktik coaching leadership, feedback bukan sekadar menyampaikan apa yang salah. Feedback adalah momen untuk membantu orang melihat situasinya dengan lebih jernih, lalu memutuskan apa yang ingin ia ubah. Sayangnya, banyak percakapan berubah menjadi kritik karena cara menyampaikannya menyerang identitas, bukan perilaku. Artikel ini membahas mengapa tim defensif, apa dampaknya jika dibiarkan, dan lima cara mengubah kritik menjadi percakapan coaching yang konstruktif.

Mengapa Tim Langsung Defensif Saat Diberi Feedback?

Defensif bukan tanda bahwa tim tidak mau berkembang. Ia sering muncul karena percakapan terasa seperti penilaian terhadap diri mereka, bukan umpan balik tentang pekerjaan.

Perhatikan perbedaan dua kalimat berikut:

  • “Kamu tidak disiplin.”
  • “Tiga laporan terakhir baru saya terima setelah tenggat, padahal data itu dibutuhkan tim lain pada hari yang sama.”

Kalimat pertama menempelkan label pada orang. Kalimat kedua menjelaskan perilaku dan dampaknya. Ketika yang disampaikan adalah label, satu-satunya hal yang bisa dilakukan tim adalah membela diri. Ketika yang disampaikan adalah perilaku, ada ruang untuk berdiskusi.

Kritik Menyerang Identitas, Feedback Menyasar Perilaku

Dalam NLP, ada prinsip yang sangat relevan di sini: pisahkan perilaku dari identitas. Perilaku bisa diubah; identitas cenderung dipertahankan. Kalimat “kamu tidak disiplin” membuat orang merasa harus membuktikan bahwa dirinya bukan orang yang tidak disiplin. Kalimat “laporan ini terlambat tiga hari” mengundang orang untuk membicarakan laporan itu.

Masalahnya, saat merasa tertekan, leader justru cenderung memakai bahasa yang paling cepat keluar: label, generalisasi, dan kata “selalu” atau “tidak pernah”. “Kamu selalu telat.” “Kamu tidak pernah inisiatif.” Bahasa seperti ini terasa jelas bagi leader, tetapi bagi penerimanya terdengar seperti vonis.

Feedback yang Ditumpuk Sering Keluar sebagai Serangan

Leader sering menahan ketidaknyamanan selama berminggu-minggu, lalu menuangkannya dalam satu percakapan. Dari sisi leader, ini terasa seperti menyampaikan semua yang selama ini mengganggu. Dari sisi tim, ini terasa seperti serangan mendadak yang tidak sebanding dengan satu kesalahan terakhir.

Akibatnya, tim bukan mendengar pesan utama. Mereka sibuk menghitung apakah semua tuduhan itu adil. Fokus percakapan pun berpindah dari “apa yang perlu diperbaiki” menjadi “siapa yang benar”.

Tidak Ada Rapport, Tidak Ada Ruang untuk Mendengar

Rapport bukan berarti leader harus setuju dengan semua alasan tim. Rapport berarti ada cukup rasa aman dan kepercayaan untuk membicarakan hal sulit tanpa merasa terancam. Tanpa rapport, pertanyaan terbaik pun bisa terdengar seperti interogasi. Tanpa rapport, bahkan feedback yang benar bisa ditolak bukan karena isinya salah, tetapi karena caranya terasa tidak menghargai.

Apa Dampaknya Jika Percakapan Feedback Terus Berjalan Seperti Itu?

Jika setiap feedback berakhir dengan pembelaan, ada beberapa hal yang perlahan terjadi di dalam tim:

  • Leader berhenti memberi feedback. Bukan karena masalahnya hilang, tetapi karena percakapannya terasa melelahkan. Feedback kemudian hanya muncul saat situasi sudah parah.
  • Tim belajar untuk diam. Mereka menyampaikan hal-hal yang aman, menutupi risiko, dan menunggu arahan. Di permukaan tim tampak tenang, tetapi informasi penting tidak lagi mengalir ke atas.
  • Masalah yang sama berulang. Karena akar persoalannya tidak pernah dibicarakan, kesalahan yang sama muncul lagi dalam bentuk yang sedikit berbeda.
  • Kepercayaan menurun. Tim mulai melihat feedback sebagai ajang mencari kesalahan, bukan kesempatan untuk tumbuh. Hubungan kerja menjadi transaksional.
  • Performa dan retensi tertekan. Orang yang paling kompeten biasanya paling cepat merasakan lingkungan yang tidak aman untuk jujur. Mereka bisa tetap bekerja, tetapi keterlibatannya berkurang—atau mereka memilih pergi.

Yang paling berbahaya bukan ledakan emosi saat rapat. Yang paling berbahaya adalah ketika feedback berhenti sama sekali. Pada titik itu, leader kehilangan salah satu alat terpenting untuk mengembangkan tim, dan masalah kecil dibiarkan tumbuh sampai menjadi masalah besar.

Apa Bedanya Feedback, Kritik, dan Percakapan Coaching?

Ketiganya bisa menggunakan kata-kata yang mirip, tetapi tujuannya berbeda. Memahami perbedaan ini membantu leader memilih pendekatan sebelum membuka percakapan.

Aspek Kritik Feedback Percakapan Coaching
Tujuan Menunjukkan kesalahan Menyampaikan dampak perilaku Membangun kesadaran dan komitmen
Fokus Orangnya Perilaku dan hasil Pemikiran, pilihan, dan langkah berikutnya
Posisi leader Hakim Pemberi informasi Partner berpikir
Respons yang diharapkan Mengakui kesalahan Memahami dampak Menemukan solusi dan mengambil tanggung jawab

Percakapan coaching tidak menghilangkan kebutuhan akan feedback. Ia justru membuat feedback lebih mudah diterima, karena tim tidak hanya mendengar apa yang salah, tetapi juga dilibatkan dalam mencari jalan keluarnya.

5 Cara Leader Mengubah Kritik Menjadi Percakapan Coaching

Perubahan ini tidak menuntut leader menjadi terapis atau berbicara dengan teknik rumit. Yang dibutuhkan adalah niat untuk memahami sebelum menilai, serta struktur percakapan yang menjaga fokus tetap pada perilaku dan solusi.

1. Mulai dari Perilaku yang Bisa Diamati, Bukan Label tentang Orang

Ganti penilaian sifat dengan deskripsi kejadian. “Kamu kurang komunikatif” sulit dibuktikan dan mudah diperdebatkan. “Dalam dua proyek terakhir, perubahan tenggat tidak diteruskan ke tim desain” jauh lebih konkret.

Semakin spesifik perilakunya, semakin kecil ruang untuk defensif. Tim mungkin masih tidak nyaman, tetapi mereka tahu persis apa yang sedang dibicarakan. Ini juga membantu leader memastikan bahwa dirinya tidak sedang bereaksi terhadap kesan pribadi.

2. Pisahkan Fakta dari Tafsiran—dan Periksa Perspektif Tim

Leader sering mencampur apa yang terjadi dengan apa yang ia simpulkan. “Laporan terlambat” adalah fakta. “Dia tidak peduli dengan tim” adalah tafsiran. Sebelum menyimpulkan, ajukan pertanyaan yang membuka konteks:

  • “Apa yang membuat laporan ini sulit diselesaikan tepat waktu?”
  • “Bagian mana yang paling menyita waktu?”
  • “Apakah ada informasi atau dukungan yang belum tersedia?”

Pertanyaan seperti ini bukan mencari alasan agar kesalahan bisa dimaafkan. Tujuannya adalah memisahkan masalah kemampuan, masalah proses, dan masalah kemauan—tiga hal yang membutuhkan penanganan berbeda.

3. Gunakan Pertanyaan yang Membuka Kesadaran, Bukan Interogasi

Pertanyaan “kenapa kamu selalu telat?” hampir selalu memancing pembelaan, karena kata “selalu” dan nada “kenapa” terasa menuduh. Sebaliknya, pertanyaan yang dimulai dengan “apa” atau “bagaimana” mengundang tim untuk berpikir:

  • “Apa yang terjadi di minggu-minggu ketika laporan itu terlambat?”
  • “Menurutmu, apa yang perlu berubah agar tenggat berikutnya bisa dijaga?”
  • “Bagaimana caranya agar saya tahu lebih awal jika ada risiko keterlambatan?”

Perhatikan bahwa leader tetap memegang standar. Yang berubah adalah cara mencapai standar itu: bukan dengan memberi jawaban, tetapi dengan membuat tim ikut memikirkan solusinya.

4. Bangun Rapport Sebelum Masuk ke Bagian yang Sulit

Jangan membuka percakapan langsung dengan masalah. Mulailah dengan mengakui konteks dan mendengarkan tanpa menyela. Bisa dimulai dengan kalimat sederhana: “Saya ingin membicarakan laporan bulan ini. Sebelum itu, bagaimana kondisi pekerjaanmu minggu ini?”

Rapport juga dibangun melalui bahasa tubuh, nada suara, dan kesediaan untuk benar-benar mendengar. Jika tim merasa terburu-buru, disalahkan, atau tidak didengar, isi feedback tidak akan sampai. Membangun rapport bukan berarti melunakkan standar; ini tentang menciptakan kondisi agar standar itu bisa dibicarakan secara terbuka.

5. Akhiri dengan Komitmen Bersama, Bukan Instruksi Sepihak

Percakapan coaching harus menghasilkan sesuatu yang jelas. Namun, solusinya sebaiknya lahir dari kesepakatan, bukan hanya dari perintah. Setelah tim memahami dampak dan akar masalahnya, ajukan pertanyaan penutup:

  • “Apa langkah pertama yang realistis untuk minggu ini?”
  • “Dukungan apa yang kamu butuhkan dari saya?”
  • “Kapan kita cek lagi perkembangannya?”

Komitmen yang dibuat sendiri biasanya lebih dijaga daripada instruksi yang diberikan. Leader tetap memastikan ada tindak lanjut, tetapi tanggung jawab perubahan tidak lagi hanya berada di pundak leader.

Bagaimana Coaching Leadership Membantu Leader Menjaga Percakapan Tetap Konstruktif?

Lima cara di atas terdengar sederhana. Yang sulit adalah tetap tenang ketika tim defensif, tetap ingin tahu ketika Anda merasa tidak dihargai, dan tetap fleksibel ketika percakapan tidak berjalan sesuai rencana. Di sinilah coaching leadership sebagai keterampilan—bukan sekadar teknik—menjadi penting.

NLP memberikan beberapa kerangka yang sangat relevan untuk percakapan coaching:

  • State management. Sebelum mengelola respons orang lain, leader perlu mengenali keadaan dirinya sendiri. Jika leader terbawa emosi, pertanyaan yang paling terbuka pun akan terdengar seperti tuduhan.
  • Rapport. Kemampuan menyesuaikan cara berkomunikasi dengan lawan bicara membuat tim merasa didengar tanpa harus merasa disetujui. Untuk mendalami ini, Anda bisa membaca panduan teknik rapport dalam NLP.
  • Meta model. Pola bahasa seperti “selalu”, “tidak pernah”, atau “memang begitu” sering menyembunyikan informasi penting. Pertanyaan yang tepat membantu membuka detail dan menemukan titik perubahan yang lebih spesifik.
  • Perceptual positions. Leader dilatih melihat situasi dari sudut pandang tim, bukan hanya dari sudut pandang target dan tekanan yang ia rasakan sendiri.
  • Behavioral flexibility. Tidak semua orang merespons dengan cara yang sama. Leader yang fleksibel mampu mengganti pendekatan ketika satu cara tidak berhasil, tanpa kehilangan arah percakapan.

Keterampilan-keterampilan ini saling melengkapi. Rapport membuat percakapan aman, pertanyaan membuka kesadaran, dan fleksibilitas menjaga percakapan tetap bergerak. Bagi yang ingin memahami dasar-dasarnya, panduan NLP Leadership merangkum bagaimana pola pikir dan komunikasi pemimpin saling memengaruhi.

Kapan Membaca Teknik Saja Tidak Cukup?

Membaca lima cara di atas memberi Anda peta. Namun, percakapan nyata jarang berjalan rapi seperti daftar. Tim bisa tetap defensif meskipun Anda sudah memakai pertanyaan yang tepat. Anda sendiri bisa terpicu ketika usaha baik Anda justru dicurigai. Ada juga anggota tim yang diam, tetapi bukan karena setuju.

Pertanyaannya kemudian: bagaimana seorang leader tahu kapan harus menggali lebih dalam dan kapan harus berhenti? Bagaimana ia membaca respons yang tidak diucapkan? Dan bagaimana ia melatih kemampuan ini tanpa membuat tim merasa sedang diuji?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu tidak cukup diperoleh dari bacaan. Ia terbentuk melalui latihan, umpan balik, dan penerapan pada situasi nyata—terutama situasi yang tidak nyaman.

Jika Anda ingin membawa pemahaman mengenai coaching dan komunikasi dari sekadar teori menjadi keterampilan yang benar-benar dipakai saat tekanan datang, pelatihan dengan praktik dan pendampingan bisa menjadi langkah berikutnya.

Untuk mengasah kemampuan coaching dan kepemimpinan, tersedia beberapa kelas di Pasti Prestasi yang relevan:

Jika tantangan Anda lebih luas—bukan hanya percakapan feedback, tetapi juga membangun performa tim penjualan—Sales University menyediakan program dan komunitas belajar yang relevan untuk profesional sales serta pemimpin tim penjualan.

Bagi Anda yang ingin masuk lebih dalam ke penerapan NLP secara profesional, NLP Leadership Indonesia menyediakan program Licensed Master Practitioner of NLP. Program ini memuat materi seperti NLP Coaching Strategies, Advanced Rapport, Value Alignment Coaching, Advanced Meta Model, hingga Negotiation & Persuasion—relevan bagi pemimpin yang ingin menguasai coaching secara lebih mendalam.

Pada akhirnya, memahami konsep adalah awal. Kemampuan sebenarnya terbentuk melalui praktik. Jika Anda ingin memimpin dengan cara yang menumbuhkan orang lain—bukan hanya mengoreksi pekerjaan—keterampilan coaching adalah investasi yang layak dilatih sejak sekarang.

Baca Juga

Dr. Richard Bandler menjelaskan teknik komunikasi NLP untuk negosiasi bisnis efektif

Dr. Richard Bandler: Ubah Gaya Komunikasi, Kuasai Meja Negosiasi

Dalam dunia bisnis modern, negosiasi bukan sekadar kemampuan untuk menyampaikan argumen kuat. Menurut Dr. Richard Bandler, pencipta Neuro-Linguistic Programming (NLP), inti dari negosiasi yang sukses adalah gaya komunikasi yang tepat—yang mampu membangun koneksi, memengaruhi secara halus, dan tetap menjaga keharmonisan hubungan.

Negosiasi Efektif Dimulai dari Komunikasi yang Cerdas

Melalui program Persuasion Engineering®, Bandler mengajarkan bahwa membentuk rapport atau koneksi emosional dengan lawan bicara adalah fondasi utama dalam proses negosiasi. Dengan membangun rasa percaya, lawan bicara akan lebih terbuka terhadap ide dan solusi yang Anda tawarkan.

Mendengar Lebih Dalam, Mempengaruhi Lebih Akurat

Bandler menekankan pentingnya mendengarkan secara aktif—bukan hanya pada kata-kata, tetapi juga pada nada suara, bahasa tubuh, dan makna tersembunyi. Dari sini, kita bisa memahami motivasi, keraguan, dan keyakinan terdalam dari lawan negosiasi.

Komunikasi Persuasif: Kunci Sukses Negosiasi

Melalui pendekatan NLP, Bandler menekankan pentingnya rapport, yaitu kemampuan menyatu secara emosional dan psikologis dengan lawan bicara. Rapport membuka ruang kepercayaan dan membuat komunikasi jadi lebih lancar. Dalam proses ini, ide-ide yang kamu sampaikan tidak akan terasa memaksa, karena telah dibungkus dengan empati dan pemahaman.

Teknik Persuasif NLP dalam Negosiasi

Berbagai teknik bahasa persuasif NLP seperti:

  • Embedded commands

  • Presupposition

  • Reframing

…memungkinkan Anda menyampaikan pesan secara halus, bahkan membuat ide Anda terasa seperti berasal dari pemikiran lawan bicara sendiri. Ini adalah seni memengaruhi tanpa terlihat mendominasi.

Kendalikan Emosi, Menangkan Situasi Negosiasi – NLP

Negosiator yang kalah bukan karena argumen lemah, tetapi karena emosi yang tidak terkendali. NLP mengajarkan pengelolaan state, yaitu bagaimana menjaga kondisi mental dan emosional tetap stabil, fokus, dan tenang di situasi penuh tekanan.

Kenali Gaya Komunikasi Lawan Bicara

Apakah mereka dominan visual, auditori, atau kinestetik? NLP memberikan cara untuk mengenali dan menyesuaikan gaya komunikasi Anda, sehingga negosiasi berlangsung lebih mulus dan hasilnya lebih maksimal.

Ikuti pelatihan Licensed Business Practitioner of NLP™ yang dirancang untuk Anda yang ingin melakukan transformasi pribadi dan profesional secara nyata.

Kunjungi website kami:

presentasi nlp

NLP Mengubah Hidup: Dari Proyek Mahasiswa ke Metode Global

Meningkatkan Daya Pikir dan Kualitas Hidup dengan NLP

Neuro-Linguistic Programming (NLP) adalah pendekatan praktis yang memadukan cara berpikir, bahasa, dan tindakan untuk menghasilkan perubahan positif. Meski awalnya dirancang sebagai metode terapi, kini NLP banyak diterapkan dalam konteks pendidikan, komunikasi, kepemimpinan, dan pengembangan potensi diri.

Latar Belakang dan Tujuan NLP

Pada tahun 1970-an, dua peneliti, Richard Bandler dan John Grinder, mempelajari bagaimana terapis seperti Virginia Satir dan Milton Erickson menciptakan hasil luar biasa. Mereka menemukan bahwa keberhasilan itu tidak hanya datang dari isi terapi, tetapi dari struktur bahasa dan pola pikir yang digunakan. Hasil penelitian ini kemudian dirumuskan menjadi metode yang dapat dipelajari oleh siapa saja untuk mencapai hasil serupa.

Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam rutinitas harian, teknik NLP dapat membantu seseorang mengelola emosi, meningkatkan kepercayaan diri, dan memperbaiki cara memandang tantangan. Salah satu teknik populer adalah reframing, yaitu mengubah sudut pandang terhadap suatu peristiwa agar lebih membangun dan memberdayakan. Selain itu, juga digunakan untuk menetapkan tujuan secara lebih jelas dan menciptakan kebiasaan berpikir yang mendukung pencapaian tersebut.

Manfaat untuk Dunia Kerja dan Bisnis

Banyak profesional memanfaatkan strategi NLP untuk membangun hubungan kerja yang harmonis. Dalam kepemimpinan, pendekatan ini membantu manajer memahami cara berpikir tim dan menyampaikan instruksi dengan cara yang lebih efektif. Di bidang penjualan, memudahkan dalam menjalin relasi emosional dengan klien, sekaligus meningkatkan kemampuan negosiasi.

Transformasi Pola Pikir dan Cara Komunikasi

Keunikan terletak pada kemampuannya memodifikasi kebiasaan mental yang menghambat pertumbuhan. Dengan memahami preferensi komunikasi—seperti visual, auditori, atau kinestetik—kita bisa menyesuaikan penyampaian pesan agar lebih mudah diterima oleh orang lain. NLP juga membantu dalam membangun empati, sehingga komunikasi menjadi lebih mengena dan bermakna.

Kesimpulan: Investasi untuk Diri Sendiri

Secara keseluruhan, pendekatan ini memberikan alat yang aplikatif untuk meningkatkan kualitas hidup. Jika Anda ingin lebih percaya diri, produktif, dan efektif dalam berinteraksi, memahami konsep NLP adalah langkah awal yang bijak. Investasi dalam pengembangan diri melalui NLP akan memberi dampak jangka panjang yang signifikan dalam berbagai aspek kehidupan.

Pelajari lebih lanjut di:

PENJUALAN TERHAMBAT KARENA TIM GAK MAU SPEAK UP!

Sebagai pemimpin pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa beberapa tim penjualan lain begitu terbuka tentang masalah yang mereka hadapi, sementara tim kamu enggan untuk terbuka?

Apa peran penting yang harus dimiliki pemimpin yang telah mengalami proses coaching dalam menciptakan lingkungan agar anggota tim merasa nyaman dan terbuka?

Dapatkah pemimpin yang telah mengalami proses coaching membuat tim penjualan merasa terbuka tentang masalah yang dihadapinya? Dalam artikel ini, kita akan membagikan peran penting pemimpin yang telah mengalami coaching dalam memfasilitasi komunikasi terbuka dalam tim penjualan.

1. Pemahaman yang Lebih Baik tentang Keterampilan Komunikasi

Pemimpin yang telah mengalami proses coaching biasanya memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang keterampilan komunikasi yang efektif. Mereka telah belajar bagaimana mendengarkan secara aktif, mengajukan pertanyaan yang relevan, dan memberikan umpan balik yang konstruktif. Keterampilan ini memungkinkan mereka untuk berkomunikasi dengan baik dengan anggota tim penjualan, menciptakan ruang untuk berbicara tentang masalah, dan mendengarkan dengan empati saat anggota tim berbagi keprihatinan mereka.

2. Menciptakan Lingkungan Terbuka dan Aman

Pemimpin memahami bahwa kepercayaan dan transparansi adalah elemen kunci dalam memotivasi tim penjualan untuk berbicara tentang masalah. Dalam budaya yang terbuka, anggota tim merasa nyaman untuk berbagi kekhawatiran atau tantangan tanpa takut hukuman atau kritik yang tidak konstruktif.

3. Memfasilitasi Diskusi yang Produktif

Pemimpin yang berpengalaman dalam coaching juga memahami bagaimana memfasilitasi diskusi yang produktif ketika masalah muncul. Mereka tidak hanya membiarkan masalah diabaikan atau dihindari, tetapi mereka membantu tim untuk menggali akar masalah dan mencari solusi bersama. Mereka bisa bertindak sebagai mediator yang efektif, mengarahkan percakapan ke arah yang konstruktif, dan mendorong pemikiran kreatif dalam mengatasi masalah.

4. Menggunakan Pengalaman Pribadi sebagai Contoh

Pemimpin yang telah menjalani coaching sering menggunakan pengalaman pribadi mereka sebagai contoh yang kuat. Mereka dapat berbagi kisah tentang bagaimana mereka mengatasi hambatan dalam karier mereka sendiri atau menghadapi masalah yang serupa. Ini bukan hanya memberikan inspirasi kepada anggota tim, tetapi juga membuat mereka merasa bahwa pemimpin mereka adalah orang yang bisa dipercaya dan dapat dimengerti.

5. Memberikan Dukungan Aktif

Dukungan aktif adalah kunci dalam mendorong anggota tim penjualan untuk berbicara tentang masalah. Pemimpin harus siap mendengarkan dengan seksama ketika anggota tim berbicara tentang masalah mereka. Mereka mengambil tindakan yang diperlukan untuk membantu menyelesaikan masalah tersebut, dan mereka memberikan dorongan positif. Dengan cara ini, pemimpin menciptakan hubungan yang kuat antara diri mereka dan anggota tim, yang mendorong komunikasi yang terbuka dan kerja sama yang lebih baik.

Dengan komunikasi yang efektif, dukungan aktif, dan kemampuan untuk menciptakan lingkungan terbuka, mereka membantu tim mencapai potensi penuh mereka dan menjadikan perusahaan lebih tangguh dalam menghadapi tantangan bisnis. Kesuksesan tim penjualan bukan hanya tentang penjualan yang kuat, tetapi juga tentang kolaborasi dan komunikasi yang kuat.

Salam performance

TIDAK PUNYA SKILL KOMUNIKASI?LEAERS YAKIN BERHASIL?

Ibarat nahkoda kapal sebagai pemimpin harus memiliki visi dan misi yang jelas untuk membawa perusahaan dalam sebuah kesuksesan. Yang artinya dalam mencapai visi misi pemimpin harus mampu skill komunikasi dan persuasif yang baik.

Coba bayangkan apa jadinya jika pemimpin tidak memiliki skill komunikasi yang baik? Repot bukan?

Dalam dunia bisnis kepemimpinan yang efektif tidak hanya melibatkan kemampuan mengatur dan mengarahkan, tetapi juga kemampuan untuk memengaruhi dan memotivasi orang lain. Salah satu pendekatan yang dapat membantu memperkuat keterampilan persuasif adalah Neuro Linguistic Programming (NLP).

Menurut Dr. Richard Bandler sebagai bapak NLP, menjelaskan bahwa (NLP) adalah “pemahaman tentang bagaimana manusia berbicara kepada diri mereka sendiri dan kepada orang lain.”

Mengapa Keterampilan Persuasif Penting dalam Kepemimpinan:

1. Membangun Hubungan:

Keterampilan persuasif membantu pemimpin membangun hubungan yang kuat dengan tim, rekan kerja, dan mitra bisnis. Dengan kemampuan untuk berkomunikasi dengan cara yang meyakinkan, pemimpin dapat memperoleh dukungan dan kepercayaan dari orang lain.

2. Mengatasi Perbedaan Pendapat:

Pemimpin sering dihadapkan pada situasi di mana perbedaan pendapat muncul. Kemampuan persuasif memungkinkan pemimpin untuk menyampaikan pandangan mereka dengan cara yang dapat meyakinkan orang lain untuk merangkul ide atau solusi yang diajukan.

3. Menginspirasi dan Memotivasi:

Keterampilan persuasif memungkinkan pemimpin untuk menginspirasi dan memotivasi tim mereka. Dengan menggunakan argumen yang kuat dan meyakinkan, pemimpin dapat merangsang semangat dan komitmen untuk mencapai tujuan bersama.

4. Menghadapi Tantangan Eksternal:

Pemimpin sering harus berinteraksi dengan pihak luar seperti pelanggan, investor, atau mitra bisnis. Keterampilan persuasif membantu pemimpin menghadapi situasi ini dengan percaya diri dan efektif.

5. NLP dalam Kepemimpinan:

NLP adalah suatu pendekatan psikologis yang menggabungkan pola pikir, bahasa, dan perilaku untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam konteks kepemimpinan, NLP dapat memberikan alat dan teknik untuk meningkatkan keterampilan persuasif pemimpin. Beberapa konsep NLP yang relevan antara lain:

• Modeling (Pemodelan):

Pemodelan melibatkan memahami dan meniru pola perilaku orang-orang yang telah berhasil dalam keterampilan tertentu. Dalam hal ini, pemimpin dapat menggunakan pemodelan untuk memahami bagaimana individu yang persuasif berkomunikasi dan beradaptasi dengan gaya mereka.

• Rapport (Hubungan Baik):

Konsep rapport dalam NLP adalah tentang membangun hubungan yang harmonis dan saling menghormati dengan orang lain. Pemimpin dapat menggunakan prinsip ini untuk membangun koneksi yang lebih dalam dengan anggota tim dan berkomunikasi dengan lebih efektif.

• Anchoring (Ancangan):

Ancangan adalah teknik di mana perasaan atau emosi tertentu dikaitkan dengan stimulus tertentu. Dalam kepemimpinan, pemimpin dapat menggunakan teknik ini untuk membangkitkan motivasi dan semangat dalam diri anggota tim dengan menggunakan stimulus tertentu, seperti kata-kata inspiratif atau gerakan tangan yang konsisten.

Kesimpulan keterampilan persuasif yang kuat adalah aspek penting dari kepemimpinan yang efektif karena dapat membantu pemimpin mengasah keterampilan ini melalui pemodelan, pendekatan yang membangun hubungan baik, dan teknik lainnya.

Salam performance

Profil Meta Program Procedural & Optional

Profil Meta Program Procedural & Optional

By Coach Antonius Arif

 

  1. Procedural & Optional adalah tipe kita mengerjakan, dua konsep yang digunakan untuk memahami bagaimana seseorang mengelola tugas dan pekerjaan mereka
  • Optional : Orang yang memiliki preferensi “optional” lebih cenderung berfokus pada hasil akhir, tujuan, atau hasil pekerjaan. Mereka cenderung lebih bebas dalam pendekatan mereka terhadap tugas dan tidak selalu memerhatikan langkah-langkah atau prosedur tertentu. Mereka mungkin lebih terbuka terhadap berbagai cara untuk mencapai hasil yang diinginkan dan lebih fleksibel dalam pendekatan kerja mereka.

Kata kunci perkataan : Kriteria, pilihan-pilihan, kemungkinan, dan lain lain

Contoh :

Pertanyaan: “Bagaimana  kamu bisa tahu iklan lowongan kerja diperusahaan ini?”

Jawab : “Ada dikoran Kompas dan kirim cv via email.”

Orang yang profil ini cocok : Bagian creative atau bagian yang membutuhkan ide ide

 

  • Procedural : orang yang memiliki preferensi “procedural” lebih cenderung memerhatikan langkah-langkah dan prosedur yang jelas dalam menyelesaikan tugas atau pekerjaan. Mereka cenderung mengikuti rencana yang telah ditetapkan atau panduan yang telah diberikan.

Mereka mungkin merasa lebih nyaman dengan struktur yang ketat dan proses yang terdefinisi dengan baik. Orang yang memiliki preferensi “procedural” lebih cenderung memerhatikan langkah-langkah dan prosedur yang jelas dalam menyelesaikan tugas atau pekerjaan. Mereka cenderung mengikuti rencana yang telah ditetapkan atau panduan yang telah diberikan. Mereka mungkin merasa lebih nyaman dengan struktur yang ketat dan proses yang terdefinisi dengan baik.

Kata kunci perkataan : Bercerita, narasi, sejarah kerja, kebutuhan, akibat dari suatu kejadian, bukan pilihan, dan lain lain

Contoh :

Pertanyaan: “Bagaimana  kamu bisa tahu iklan lowongan kerja diperusahaan ini?”

Jawab : “Waktu hari sabtu, saya melihat koran Kompas dan saya melihat ada lowongan pekerjaan diperusahaan ini. Lalu segera saya buat cv dan kirim via email sore itu juga.”

Orang yang profil ini cocok : Kerja administrasi, kerja yang memakai SOP

Bagi Anda yang ingin mendapatkan artikel terbaru terkait NLP dari Coach Antonius Arif dapat bergabung dalam WA Group https://chat.whatsapp.com/JZ1Ks4QJubl6842uKDRMly

Hindari Hal Ini Saat Komunikasi

Hindari Hal Ini Saat Komunikasi

By Coach Antonius Arif

 

Ada juga beberapa guidance yang bisa menjadi pegangan kita saat komunikasi. Dan ada beberapa yang harus kita hindari :

  • Clinton box 

Imajinasikan seperti ada kotak didepan badan anda. Dan Ketika tangan kita keluar dari kotak itu saat berbicara ada dugaan bahwa kita cenderung berbohong. Jadi usahakan setiap berbicara tangan kita jangan keluar dari kotak tersebut

  • Tangan disilang didepan dada

Ini dianggap bahwa sinyal menarik diri atau anda lagi melindungi diri anda dan tidak suka dengan pendapat yang orang lain katakan kepada anda.

  • Menatap mata

Saat anda menyampaikan sesuatu dan setelah persis menyampaikan sesuatu kemudian anda menghindar bisa dianggap anda sebagai berbohong.

  • Berjalan saat masuk ke sebuah ruangan

Berjalan dengan kecepatan sedang, berdiri dengan tangan disamping, bahu ditarik dan mata kedepan. Jika anda berjalan terlalu lambat maka anda akan diasumsikan bukan sebagai seorang yang antusias.

  • Telapak Kaki menghadap ke orang yang kita ajak bicara

Tak sadar sering sekali Ketika kita bicara, telapak kaki kita mengarah ke tempat lain bukan kepada orang yang kita ajak bicara. Ini diasumsikan bahwa anda mau menghindar darinya atau mau melakukan hal yang lain.

  • Badan harus terbuka

Saat berbicara pastikan badan anda terbuka (bukan seperti bahu ditarik ke dalam atau cenderung membungkuk) karena jika terbuka maka orang didepan anda tertarik untuk berbicara dengan anda.

  • Saat meeting hindari melihat pada jam

Ini seperti anda menganggap bahwa meeting ini membosankan dan anda mau mencari cara untuk menghindar darinya.

  • Sentuh sedikit di bahunya

Ketika sedang ada pembicaraan atau sentuh tangannya sedikit saja seperti ketukan kepada tangan ini akan membuat seperti akrab.

  • Naikan alis mata saat menyapanya

Ini ekspresi muka yang sering sekali saya sharingkan saat menyapa orang baru dan ini sangat cepat sekali membuat menjalin hubungan. Kenapa itu bisa terjadi? Karena mereka akan beranggapan bahwa kita dan orang tersebut sudah kenal lama.

Pernah perhatikan saat anda berpapasan dengan teman satu kantor anda Ketika anda mau menuju ke toilet, anda secara tidak sengaja akan menaikkan alis mata seperti sebuah salam perkenalan.

 

Bayangin ga, jika kita berkomunikasi dengan orang lain dengan body language yang tepat maka Sebagian kesuksesan sudah terjadi.

Bagi Anda yang ingin mendapatkan artikel terbaru terkait NLP dari Coach Antonius Arif dapat bergabung dalam WA Group https://chat.whatsapp.com/JZ1Ks4QJubl6842uKDRMly

Bagaimana sih Berkomunikasi untuk Mengatasi Orang Sulit?

Bagaimana sih Berkomunikasi untuk Mengatasi Orang Sulit?

By Coach Antonius Arif

Pernah gak sih komunikasi dengan orang yang sulit diajak bicara (bukan tidak bisa bicara tetapi sikap kekerasan kepala mereka). Dan ini sering sekali terjadi ketika berkomunikasi dengan staf atau berbicara dengan divisi lain bahkan ketika kita berbicara, orang itu seakan-akan tidak mau membantu kita sama sekali.

Bahkan saya pun pernah mempunyai staf yang ketika saya minta dia melakukan sesuatu malah diajak berdebat dahulu. Wah kalau saya tidak belajar NLP komunikasi bisa bisa saya sudah sering bertengkar sama dia (dan memang pernah bertengkar keras sekali tapi hanya satu kali), rasanya konyol sekali menghadapi orang orang seperti itu.

Apa sih yang bisa kita lakukan secara NLP ?

seperti yang saya sudah jelaskan diawal bahwa ketika kita berkomunikasi dengan orang lain kita harus memegang beberapa prinsip sukses dan saya akan mengulas sedikit karena sudah pernah ada ditulisan saya di bab sebelumnya.

Maka prinsip yang kita pakai adalah…

  1. Pisahkan niat dari perilaku, dimana kita pisahkan perilaku kasar orang tersebut dari niatnya dan saya yakin niat dia baik walau perilakunya salah. Sama seperti ibu mencuri susu untuk anaknya. Perilakunya salah tetapi niatnya positif. (bukan niat mencuri ya tapi niat memberi makan kepada anaknya). Jadi mau sekesel apapun, kita pegang prinsip ini agar kita lebih tenang saat berkomunikasi.
  2. Peta bukan area yang sebenarnya, dimana saya harus mengali informasi dahulu apa yang dia ketahui tentang hal yang didiskusikan atau tidak disetujui. Sehingga kita mempunyai kesamaan persepsi maka pembicaraan menjadi lebih mudah.
  3. Selalu ada niat positif dari sebuah tindakan, sama seperti no 1 tadi, kita harus melihat niat positifnya apa. Seperti contoh : orang merokok, niat positifnya untuk menjadi rileks. Ada orang yang marah marah dan niat positifnya untuk mempertahankan diri (karena orang yang marah marah karena sebenarnya dia memproteksi dirinya sendiri)
  4. Resisten, adalah tandanya kurang terjalin hubungan yang akrab, ini kunci awal saat berkomunikasi dengan orang sulit. Bahkan saya dulu pernah bekerja menjadi GM dimana staf saya wuihhh super sulit. Bahkan boss saya pun sempat mau pecat dia dan dia tidak disukai oleh teman teman di satu kantor karena suka ngaduin atau ngejelek jelekin mereka dan diadu domba sama dia.

Saya tahu cara untuk bisa dekat dengannya adalah jalin hubungan baik dulu dengan dia, mengerti tentang dia. Dan berhasil disaat itulah ketika saya berbicara apapun, orang itu cenderung mendukung pendapat saya dan mau melakukan perintah yang saya berikan.

Nah, kita sudah belajar mindset yang harus dimiliki saat berkomunikasi dengannya dan sekarang kita belajar Langkah Langkah apa yang harus dilakukan secara NLP agar komunikasi bisa terjalin dengan baik.

Saya sharingkan beberapa langkahnya :

  1. Bersikap tenang dan menggunakan Teknik Frame yang baik saat berkomunikasi dengan mereka. Contoh : orang yang saya ajak bicara adalah orang yang baik (walau kita tahu tidak seperti itu, ingat Pygmalion)
  2. Pahami dari sudut orang tersebut dengan bertanya kepadanya apa yang menjadi alasan dari motivasi mereka melakukan itu. Ingat orange solution dan melakukan pendekatan dari sana.
  3. Lakukan Agreement Frame (Menyetujui orang tersebut), ketika terjadi perdebatan lakukan anda selalu menyetujui pendapat mereka dan setelah itu langsung anda arahkan kearah yang anda mau.
  4. Pahami mereka secara penuh dengan melakukan empathic listening, dengarkan mereka dan selalu memunculkan kepedulian kita kepadanya
  5. Ajak berdiskusi untuk menemukan alternatif ke 3 yang win – win – win, teknik ini yang digunakan oleh Stephen Covey dan menurut saya ini teknik yang menarik untuk kita gunakan. Saya sharingkan tahap-tahap yang bisa kita lakukan.
  6. Temukan INTENSI, seperti orange solution cari tahu apa intensi atau yang memotivasi dia melakukan hal itu. Jadi kita pisahkan niat (intensi) mereka dengan perilakunya
  7. Hormati intensi mereka dengan mengatakan saya hargai motivasi mereka
  8. Brainstorming alternatif-alternatif pilihan yang Ekologis dengan berdiskusi Bersama untuk menentukan solusi yang sesuai dengan motivasi tersebut
  9. Temukan solusi Bersama dan menyetujui Bersama

Contoh  :

Ada seorang suami isteri yang sedang liburan panjang, dimana sang isteri ingin pergi ke rumah ibunya, ibunya sudah tua dan dia ingin menghabiskan waktu dengan ibunya. Sedangkan suaminya ingin pergi memancing Bersama anak anak. Dan ketika terjadi perbedaan tadi maka kebanyakan yang sering kita lakukan adalah suami mengalah untuk ikut Bersama istrinya atau istrinya mengalah dan ikut kepada suaminya.

Dan ini adalah hal yang tidak win win maka didiskusikan apa alasan suami ingin memancing Bersama anak anak dan isterinya? Dia ingin punya waktu keluarga Bersama sama dan ketika ditanya istrinya karena dia tidak mau menyesal kalau ibunya sudah tiada dan tidak sempat Bersama ibunya. Maka setelah itu mereka semua saling menghormati motivasi atau intensi masing masing dan mereka Bersama sama mencari alternatif solusi untuk mengatasi hal tersebut.

Maka solusi yang bisa muncul adalah suami, istri dan anak anak mengajak ibu mertua untuk ikut mancing atau suami dan anak anak pergi memancing dilokasi dekat tinggal ibu mertua, atau minggu ini suami, istri dan anak anak pergi memancing dan minggu depan istrinya pergi ke tempat ibunya dan suaminya yang urus anak anak dirumah.

Dari cerita ini pasti andapun sudah punya banyak alternatif yang bisa digunakan dalam berkomunikasi, yang penting adalah kita mempunyai mindset yang tepat sehingga yang lain akan jadi mudah.

Bagi Anda yang ingin mendapatkan artikel terbaru terkait NLP dari Coach Antonius Arif dapat bergabung dalam WA Group https://chat.whatsapp.com/JZ1Ks4QJubl6842uKDRMly

Artikel selanjutnya…. Klik disini

Bagaimana cara menerapkan Teknik Inokulasi?

Bagaimana Cara Menerapkan Teknik Inokulasi?

By Coach Antonius Arif

Ini dia cara yang bisa kamu gunakan dalam menerapkan Teknik Inokulasi.

  1. Persiapkan dugaan kemungkinan keberatan.

Silahkan ditulis apa saja kemungkinannya, contoh:

    1. ide yang anda sampaikan tidak bisa jalan di kami,
    2. terlalu mahal dan buang buang biaya,
    3. kami tidak punya orang yang mengerjakan itu dan keberatan keberatan lainnya. Pada tahap ini persiapan benar benar dibutuhkan
  1. Setelah mengumpulkan kemungkinan keberatan dan saat anda mau melakukan presentasi dengan teknik yang disharingkan di tulisan sebelumnya, Anda nyatakan kemungkinan keberatan tersebut. Contoh kita lanjutkan yang diatas :
    1. ada beberapa customer kami berpikir bahwa ide ini tidak bisa dijalankan dengan tempat mereka,
    2. ada beberapa orang yagn berpendapat bahwa hal ini terlalu mahal dan buang buang biaya.
    3. Ketika kami mau mempresentasikan hal ini ada beberapa orang yang berpendapat bahwa mereka tidak mempunyai orang untuk mengerjakannya.
  2. Lalu lanjutkan dengan Anda menyetujui pendapat tersebut dan tambahkan kata tetapi , dimana kata tetapi itu akan menghilangkan kalimat atau pernyataan didepannya. Contoh dari kasus yang diatas.
    1. Sayapun kalau jadi mereka juga setuju, tetapi …..
    2. Sayapun tidak mau mengatakan ini murah dan wajar mereka berpendapat itu karena belum tahu manfaatnya buat mereka, tetapi ….
    3. Wajar mereka berpendapat itu karena otomatis akan menambahkan keribetan dari sisi Perusahaan, tetapi
  3. Kemudian beri alasan kenapa mereka harus setuju dengan kita dan kita meminta ijin untuk memaparkan, contoh :
    1. Ketika mereka mendengar penjelasan kami, mereka menjadi berubah pikiran dan menyetujui kami dan ijinkan kami sharingkan ide ini sampai akhir dan jika ada yang mau ditanyakan kami siap menjawabnya
    2. Setelah mendengar presentasi kami serta penghematan yang terjadi dan mereka biasanya setuju dengan kami dan malah antusias untuk segera menerapkannya. Ijinkan kami menjelaskan lebih dalam
    3. Begitu mereka mendengarkan pemaparan kami mereka malah melihat penghematan apa yang terjadi dari sisi Perusahaan dan jika diijinkan kami menjelaskan lebih dalam maka kami akan menjelaskannya untuk anda
  4. Akhiri dengan bujukan tersirat sambil anda anggukan kepala, contoh
    1. Boleh saya lanjutkan pak? (sambil angguk kepala 3 kali)
    2. Setujukan pak? (sambil angguk kepala 3 kali)
    3. Masuk akalkan pak? (sambil angguk kepala 3 kali)

TAHUKAH ANDA?

Sullivan Nod adalah teknik penjualan yang dirancang untuk mendorong orang membeli barang tertentu dengan kekuatan sugesti bawah sadar. Ini paling sering digunakan dalam industri makanan, meskipun juga muncul di industri lain, mulai dari butik hingga tempat parkir mobil. Jika dijalankan dengan baik, Sullivan Nod sangat halus sehingga konsumen bahkan tidak menyadarinya, dan membuat customer menjadi setuju. Teknik ini dikembangkan oleh Tom Sullivan, seorang konsultan yang bekerja di bisnis restoran.

Sullivan merancang teknik ini sebagai cara untuk meningkatkan penjualan makanan pembuka, minuman, dan item lainnya yang dapat dengan cepat menaikkan harga keseluruhan label di sebuah restoran. Hal ini membuat Sullivan Nod populer di kalangan pramusaji yang ingin menaikkan label mereka untuk mendapatkan tip yang lebih tinggi, dan hal ini juga umum terjadi di kalangan bartender, yang terkadang menerima bonus karena menjual lebih banyak minuman beralkohol kelas atas. Anggukan Sullivan dapat digunakan oleh pelayan untuk mendorong pembelian barang yang lebih mahal.

Mekanisme Sullivan Nod cukup sederhana. Saat customer membaca menu, dan mereka melihat kepada kita dan pelayan tersebut cukup mengangguk sedikit, sekitar 10-15 derajat, ketika item yang diinginkan tercapai. Anggukan tersebut harus cukup halus sehingga tidak menonjol, namun tetap terlihat oleh konsumen. Menurut Sullivan, pelanggan merespons anggukan tersebut sekitar 65%, membeli barang yang ditunjukkan berapa pun biayanya.

Bagaimana jika anda mempresentasikan sesuatu dan mereka mengajukan ketidak setujuan atau keberatan mereka?

Sebelum kita menjawab hal ini, dalam berkomunikasi ada beberapa frame yang kita harus jaga selama percakapan agar dalam situasi apapun kita tetap bisa berkomunikasi dengan baik.

  1. Jaga hubungan tetap baik
  2. Ketika ada ketidaksetujuan mereka, kita persiapkan mental mereka bahwa wajar mereka butuh klarifikasi atau kejelasan lebih dalam. Karena biasanya yang bertanya itu adalah mereka tertarik tapi mereka tidak tahu tujuan percakapan ini apa untuk mereka?
  3. Ciptakan keselarasan dengan menghindari kata tetapi dan lebih baik menggunakan kata dan. Karena kata tetapi artinya anda tidak setuju dan walaupun anda tidak setuju sekalipun lebih baik kita jaga dengan menggunakan kata dan. Hanya memang kalau di inokulasi kita menggunakan kata tetapi karena inokulasi itu adalah pernyataan anda sendiri dan anda tidak setuju dengan pernyataan anda sendiri.

Nah ini yang menarik, ketika dalam percakapan yang sudah ada rancang dengan baik ternyata mereka tetap saja ada hal yang mereka tidak setuju. Maka apa yang bisa kita lakukan? Sebenarnya banyak sekali teknik yang bisa kita gunakan saat terjadi ketidak setujuan apalagi dengan menggunakan Teknik NLP. Saya akan sharingkan salah satu teknik sederhana yang bisa kita lakukan yaitu Teknik Reframing.

Cara melakukannya ketika ada keberatan yang muncul :

  1. Agreement frame, menyetujui keberatan mereka atau menselaraskan keberatan mereka
  2. Dilanjutkan dengan kata “Dan”
  3. Berikan alasan penolakan anda
  4. Akhiri dengan bujukan tersirat seperti “ya kan, benar kan? Masuk akalkan? Setuju kan?” dan lanjutkan dengan Sullivan nod

Contoh :

Keberatan : Perusahaan kami tidak ada orang yang mengerjakannya

Atasi keberatan : Saya sependapat dengan pemikiran anda dan saat kami membantu memberikan pelatihan agar program tersebut bisa dijalankan apalagi ini akan menghemat biaya Perusahaan hingga 30% yang berarti penghematan sekian milyar per tahunnya, jadi masuk akalkan? (angguk kepala 3 kali)

Dan saya tambahkan juga beberapa contoh Teknik mengatasi keberatan….. Artikel selanjutnya

Bagi Anda yang ingin mendapatkan artikel terbaru terkait NLP dari Coach Antonius Arif dapat bergabung dalam WA Group https://chat.whatsapp.com/JZ1Ks4QJubl6842uKDRMly

Disney Strategies on Action – Penerapan Dalam Dunia Bisnis

Disney Strategies on Action

Bagaimana penerapannya dalam dunia usaha?

By Coach Antonius Arif

Baca artikel sebelumnya… Disney Strategies on Action

 

Saya akan sharingkan konsepnya dan nanti kita akan kembangkan untuk melakukan coaching atau mencari sebuah ide kreatif.

Contoh kasus : Bagaimana meningkatkan penjualan

  • Dreamer, Anda ingin berimajinasi secara bebas tentang cara meningkatkan penjualan. Ide yang mungkin muncul :
    • Menciptakan kampanye iklan yang luar biasa dan unik yang akan menarik perhatian banyak orang.
    • Mengembangkan produk atau layanan tambahan yang dapat memenuhi kebutuhan pelanggan dengan cara baru.
    • Menjalin kemitraan dengan bisnis terkait untuk menciptakan strategi bersama yang menguntungkan.
  • Reality (Realis), untuk menerjemahkan ide-ide ini menjadi konsep yang lebih praktis:
    • Evaluasi anggaran yang tersedia untuk promosi dan pengembangan produk atau layanan baru.
    • Pilih salah satu ide, misalnya, mengembangkan produk tambahan, dan tentukan cara untuk merancang dan memproduksi produk tersebut.
    • Tentukan strategi pemasaran dan distribusi yang realistis untuk produk tambahan atau kampanye iklan
  • Critic, tahap ini kita mengkritik ide dan rencana yang sudah dibuat
    • Apakah kampanye iklan atau produk tambahan ini memiliki potensi untuk menarik perhatian pelanggan dan meningkatkan penjualan?
    • Apakah kita telah memperhitungkan risiko, seperti apakah ide ini sesuai dengan merek atau apakah ada pesaing yang kuat di pasar?
    • Apakah rencana pemasaran dan distribusi cukup efektif dan realistis?

Nah menarik kan? Dan tahap ini bisa kita ulang ke dream, reality dan critic sampai dapat hasil yang kita inginkan. Dan bagaimana jika kita gunakan dalam coaching? Ini beberapa pertanyaan yang bisa anda gunakan

 

DREAMER :

Apa yang Anda inginkan?

Apa yang mau dibahas?

Hasil akhirnya seperti apa yang Anda imajinasikan?

 

REALITY :

Apa rencana Anda?

Yang akan Anda lakukan?

Apa saja strategi untuk melakukannya?

Kapan mau hal itu terjadi? Dengan siapa saja Anda melakukan?

 

CRITIC :

Apa hambatan untuk melakukannya?

ada tidak kemungkinan Anda tidak melakukannya?

Apa kelemahan rencanamu?

Bagaimana memastikan Anda melakukannya?

Yakin Anda bisa melakukannya?

 

Selamat berlatih dan menggunakan konsep ini ya!!

Bagi Anda yang ingin mendapatkan artikel terbaru terkait NLP dari Coach Antonius Arif dapat bergabung dalam WA Group https://chat.whatsapp.com/JZ1Ks4QJubl6842uKDRMly