Sejarah Coaching

Kita sudah sering mendengar Istilah “coaching” tetapi tahukah kita bagaimana awalnya coaching itu? Kata coach berasal dari tahun 1610-an yang artinya secara harafiah “membawa” atau “mengangkut” sesuatu atau seseorang di dalam sebuah coach (alat transport), yang memiliki arti aplikatif. Coaching pada awalnya diperkenalkan tahun 1830 yang menunjuk kepada seorang pelatih (trainer) atau instruktur. Penggunaan istilah “coach” juga dikaitkan dengan dunia olah-raga yang dipakai tahun 1831. Kata coach berarti melatih secara intensif dengan pemberian instruksi dan demonstrasi.

Kata coaching itu sendiri memiliki arti yang beragam, dan terus berevolusi sejalan dengan bergeraknya waktu, dan dari zaman ke zaman, sebab coaching dapat dihubungkan dengan segala jenis aktivitas, pekerjaan, bidang studi, bidang karier, dan bidang-bidang lainnya. menurut Joseph O’Conner, Andrea Lages dan kawan-kawannya dalam bukunya yang berjudul “How Coaching Works” coaching artinya adalah membantu orang lain agar memenuhi dan mencapai kehidupan yang memuaskan. Selain itu ada juga definisi “coaching adalah membuka potensi seseorang untuk mencapai performance yang maksimal. Ini lebih membantu mereka jika dibandingkan dengan mengajari mereka.” Dan menurut ICF Coaching sebagai bentuk kemitraan bersama klien (coachee) untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesional yang dimilikinya melalui proses yang menstimulasi dan mengeksplorasi pemikiran dan proses kreatif.

Coaching digunakan sebagai alat yang berfungsi secara variatif menurut keperluan dengan metode yang beragam. Oleh sebab itu, pengertian dan konsep coaching seringkali tumpang-tindih dengan konsep-konsep seperti: mentoring, teaching, counseling, consulting, bahkan curing atau theraphy.

 

Prinsip Coaching

Masih menurut Joseph O’Connor dan Lages, mereka mengemukakan ada 4 (empat) prinsip dalam proses coaching, yaitu :

 

  • Perubahan (change). Dalam percakapan coaching harus mengacu pada sebuah aksi yang dapat mengubah kondisi awal ke kondisi yang lebih baik, sesuai dengan tujuan yang diinginkan pihak yang coachee. Biasanya ukuran keberhasilan sebuah percakapan coaching adalah pada dampak yang dihasilkan setelah coachee melakukan tindakan nyata, untuk memecahkan masalahnya.
  • Kepedulian (concern). Seorang coach akan menanyakan apa yang menjadi kepedulian coachee. Kepedulian coachee biasanya menyangkut isu-isu yang mau dibicarakan, harapan atau sasaran apa yang mau dicapai. Coach terlebih dahulu harus yakin bahwa coachee membutuhkan pemecahan masalah. Coachee adalah orang yang membutuhkan coach, bukan coach membutuhkan coachee, walaupun dalam proses coaching kedua-duanya harus saling berinteraksi.
  • Pembelajaran (learning). Selain tujuan akhir tercapai, coachee perlu memiliki pengalaman belajar ketika sedang menghadapi masalah. Pengalaman belajar yang paling penting di antaranya ialah: belajar merefleksikan pemikiran-pemikiran sendiri, belajar menemukan sendiri jawaban-jawaban yang muncul dari hasil analisa dan refleksi pribadinya, dan belajar merayakan penemuan-penemuan kecil yang dihasilkan untuk pengembangan diri di masa yang akan datang.
  • Hubungan (relationship). Selalu melibatkan dua orang yakni coach dan coachee. Coaching tidak akan pernah terjadi bila salah satu dari dua orang ini tidak hadir. Oleh sebab itu, kedua orang ini harus menjalin sebuah hubungan yang baik, menyenangkan, saling mempercayai, saling menjaga rahasia percakapan, dan tetap saling menghormati. Semakin baik relasi kedua orang ini, semakin baik pula suasana dan hasil sebuah percakapan coaching.

 

 

 

Referensi :

Joseph O’Cornor and Andrea Lages. How Coaching Works.

https://teknologikinerja.wordpress.com/2016/07/22/coaching-skills/

Pramudianto. I’m Coach: Strategi Mengembangkan Potensi Diri dengan Coaching.2015.Yogyakarta.

Posted in Coaching.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

16 − 6 =