Belajar NLP Motivasi : Ayam Rendang Crispy? Nggak salah?

Semangat pagi! Belajar Motivasi NLP bersama coach Antonius Arif akan mengajak anda hari ini belajar mengenai fakta dan persepsi dilihat dari sudut pandang NLP. Sudah siap belajar teman – teman? Yuk kita mulai! Semalam kebetulan saya lagi mementoring alumni Lisensi NLP Practitioner yang belajar NLP selama 7 hari resmi approval dari Father NLP – Dr Richard Bandler. Saya mementoring mereka 2 minggu sekali dengan memberikan mentoring secara online melalui aplikasi video online sejenis webinar. Alumni NLP saya yang belajar NLP dengan saya tersebar di Medan, Bali, semarang, makasar, kalimantan, surabaya dan kota-kota besar lainnya. Saya pandu mereka untuk belajar NLP dan supaya selalu digunakan ilmunya. Dan saat saya lagi membuka link online saya yang terekam ke youtube ke privat group saya saja, saya menemukan sebuah video yang lagi viral.  Mungkin anda pernah melihat beberapa waktu ini lagi viral mengenai ayam rendang crispy. Ha? Ayam rendang crispy? Yes, saya ceritakan dahulu ada sebuah kontes master chef dimana ada 2 juri dihadapkan kepada 1 kontestan dari Malaysia yang menghidangkan sajian nasi lemak serta didalamnya ada ayam rendang. Dan ketika para juri memakan ayam rendang tersebut, mereka memuji rendang tersebut hanya kata juri sangat disayangkan bahwa ayamnya tidak crispy. Oleh karena itu maka kontestan itu di eliminasi. Nah loh! Sejak kapan rendang itu crispy? Memang dikira KFC kali ya hahaha. Ini ide bagus untuk KFC membuat menu bukan saja ayam pakai coklat dan ayam pakai telor asin. Tapi ayam memakai bumbu rendang. Hehehe. Karena kontestan dieliminasi karena ayam rendang yang tidak crispy maka banyak netizen yang menyudutkan juri master chef tersebut dianggap tidak memahami tentang rendang. Kok bisa? Bahkan sampai pembesar Malaysia menyudutkan juri tersebut. Dan sekarang sangat viral sekali dibahas oleh para youtuber, menyebar ke semua medsos. Apa yang bisa kita belajar dari hal ini dari sudut NLP?

Saya bukan mau membahas tentang makanan tetapi mau membahas dari sudut pandang NLP. Sudah siap belajar ? Yuk kita bahas bersama. NLP selalu membahas presuposisi Peta bukan area yang sebenarnya. Maksudnya apa? Bahwa peta yang seseorang punya belum tentu sama dengan area atau lokasi yang sebenarnya. Sudah siap belajar NLP ? Saya ambil contoh: waktu saya memakai GPS ke Bandung. Saya mencari trans studio bandung. Didalam peta di GPS saya bahwa trans studio lokasinya ada disebelah kanan peta. Dan saya yang membawa mobil konsentrasi disebelah kanan tentunya. Dan saya tidak menemukan karena fokus saya dikanan. Tetapi istri saya mengatakan, “loh papa itu disebelah kiri trans studionya” saya kaget loh kok sebelah kiri? Kok tidak sama dengan peta? Nah ini yang didalam NLP disebutkan bahwa peta bukan area yang sebenarnya. Saya tambahkan lagi biar pemahaman NLP nya lebih dalam. Peta itu juga bisa pemahaman seseorang terhadap sesuatu. Jadi ketika seseorang customer yang anda jual produk tertentu dan mereka mengatakan bahwa barang tertentu itu jelek maka itu adalah sebuah kebenaran menurut peta yang dia miliki. Dan bila kita memaksa dia bahwa barang kita bagus menurut peta si sales maka kita akan gagal jualan karena peta customer pastilah menang. Semakin anda ngotot semakin peta yang dia miliki akan dipertahankan kebenarannya. Jadi harus bagaimana dong? Nanti saya kupas.

Nah kira – kira juri master chef tadi kenapa menganggap bahwa rendang itu harus crispy? Mungkin peta dikepala dia menganggap bahwa ayam itu harus crispy. Karena setahu saya ( ini salah satu peta saya ) bahwa nasi lemak itu ada yang ayamnya agak crispy tapi bukan rendang ya. Seingat peta saya, saya pernah memakannya. Mungkin ya, mungkin peta si Master Chef tadi juga sama dan dia me mixed up dikepala dia bumbu kelapa dari rendang itu jadi peta dikepala dia benar begitu bahwa ayam rendang harusnya crispy. Bisa jadi ya begitu. Saya belum sempat telpon master chef nya ya hahaha. Dikepala master chef tadi bahwa yang dia pahami dipetanya bahwa dia belajar ayam rendang itu crispy.

Jadi ketika kita mengotot tentang peta yang kita miliki dan kita paksakan ke orang lain ya percuma. Dan saran saya untuk memasukan ide anda ke orang lain harus melakukan pacing (menyamakan) dulu kepada orang tersebut baru anda bisa memasukan idenya atau leading. Dari kejadian ayam rendang crispy paling tidak kita pahami sebuah pembelajaran dari belajar NLP yaitu peta orang berbeda – beda dan kita cukup menghormati peta yang mereka miliki. Kita boleh tidak setuju tetapi kita hormati saja petanya.

Cukup dulu sampai sini belajar – belajar NLP nya dan saya akan lanjut ke depan dengan tulisan – tulisan saya lainnya. Bila bermanfaat, kiranya mau membagikan tulisan saya ini kepada teman-teman yang lain agar mulai memahami yang namanya ada sebuah peta dan kita wajib belajar agar tidak terjadi pertikaian. NLP itu menyenangkan dan NLP membuat hidup lebih indah tentunya.

Salam performance dan belajar NLP!

“Your Achievement is Our Mission”

Oleh : Antonius Arif

Posted in Hipnoterapi, NLP and tagged .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eighteen − twelve =